🌑 “Gerbang Ketiga di Sendangsono”
"Sendang itu tempat peziarah. Tapi tak semua yang datang, pulang dengan jiwa yang sama."
📍 Latar: Sendangsono – Kulon Progo, Yogyakarta
Sendangsono dikenal sebagai tempat ziarah umat Katolik, tapi warga lokal percaya — di balik sendangnya ada gerbang gaib yang hanya terbuka untuk orang tertentu.
Warga menyebutnya Gerbang Katiga — bukan gerbang dunia nyata, bukan pula alam roh biasa… tapi tempat di mana batas keyakinan dan kutukan bertemu.
🧕🏻 Tokoh Cerita:
Namanya Mbak Sinta, dosen muda dari Solo. Ia suka jalan-jalan spiritual ke tempat sunyi. Saat ke Sendangsono, ia tak hanya datang untuk berdoa… tapi juga mencari jalur energi yang katanya bisa membuka mata batin.
Dia bertanya ke salah satu juru kunci yang berjaga:
"Nderek ngapunten, punapa wonten jalmi ingkang nate mirsani gerbang liyane? Gerbang sing ora kasat mata?"
Sang juru kunci cuma menjawab pelan:
"Gerbang katiga dudu kanggo manungsa biasa. Nanging yen panjenengan diparingi, mbok menawa panjenengan wis didadekake tumbal."
🕯️ Peristiwa Aneh:
Malam harinya, Mbak Sinta tidur di salah satu rumah warga dekat sendang. Dalam mimpinya, ia mendengar gamelan pelan dan suara perempuan tua berbahasa Jawa:
"Ayo nduk... mlaku terus, bukak lawang katiga. Ing kono atimu bakal gumolong."
Ia terbangun dengan bekas lumpur di telapak kaki, padahal ia tidur di kamar. Saat keluar, dia melihat sendang itu berkabut… dan di permukaannya ada bayangan gapura batu berlumut yang tidak terlihat di siang hari.
🚪 Gerbang Katiga
Terpanggil oleh rasa penasaran dan keyakinan spiritual, Mbak Sinta berjalan mendekat. Air sendang tampak dalam dan tenang. Ia menyentuhkan jarinya...
Tiba-tiba... ia tersedot ke dalam air.
Di dunia lain, ia tiba di lorong batu panjang. Di ujungnya, ada tiga gapura:
-
Gapura polos – simbol dunia nyata
-
Gapura berselimut kabut – alam lelembut
-
Gapura dengan cahaya emas – Gerbang Katiga
Mbak Sinta melangkah ke gerbang ketiga...
👁️ Dunia Di Balik Gerbang
Di balik gerbang itu, tidak ada surga. Tidak juga neraka.
Tapi ruang sunyi tanpa ujung, penuh cermin besar.
Dan di setiap cermin... ada versi dirinya sendiri — menangis, marah, gila, bahkan ada yang tertawa histeris.
Satu suara berbicara:
"Saben wong sing mlebu kene bakal ndeleng jiwane dhewe. Sing ora siap... ora bakal bali."
💀 Akhir Cerita:
Mbak Sinta tidak pernah kembali.
Yang mengejutkan: warga menemukan tubuhnya di pinggir sendang, masih hidup, tapi tak mengenali siapa pun. Ia hanya menatap air, dan bergumam:
"Aku wis ndeleng aku. Nanging aku dudu aku maneh."
Sejak itu, warga desa menutup sendang setelah maghrib. Dan juru kunci memberi peringatan baru:
"Ojo nelusuri sing ora katon. Ora kabeh lawang kudu mbukak."
🧿 Penutup:
Sendangsono tetap menjadi tempat ziarah hingga kini. Tapi bila kau datang ke sana saat malam dan melihat bayangan gapura di air...
Jangan ikuti suara gamelan. Jangan jawab suara yang memanggil. Dan jangan dekati pantulanmu.
Karena mungkin, kamu bukan satu-satunya yang melihatmu dari balik air.
إرسال تعليق